siklus Reproduksi

Posted On June 16, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

siklus reproduksi

Siklus reproduksi adalah perubahan siklus yang terjadi pada sistem reproduksi (ovarium, oviduk, uterus dan vagina) hewan betina dewasa yang tidak hamil, yang memperlihatkan hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Siklus reproduksi pada mamalia primata disebut dengan silus menstruasi, sedangkan siklus reproduksi pada non primata disebut dengan siklus estrus.Siklus estrus ditandai dengan adanya estrus (birahi). Pada saat estrus, hewan betin akan reseftif sebab di dalam ovarium sedang ovulasi dan uterusnya berada pada fase yang tepat untuk implantasi untuk fase berikutnya disebut dengan satu siklus estrus. Panjang siklus estrus pada tikus mencit adalah 4-5 hari, pada babi, sapi dan kuda 21 hari dan pada marmut 15 hari .
Pada mamalia khususnya pada manusia siklus reproduksi yang melibatkan berbagai organ yaitu uterus, ovarium, mame yang berlangsung dalam suatu waktu tertentu atau adanya sinkronisasi, maka hal ini dimungkinkan oleh adanya pengaturan/koordinasi yang disebut dengan hormon (hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang langsung dialirkan ke dalam peredaran darah dan mempengaruhi organ target) Pada prkatikum ini kami akan melakukan pengamatan tentang apusan vagina pada mencit. Praktikum ini dilakukan agar mahasiswa dapat menentukan tahap siklus yang sedang diamati oleh mencit betina dewasa seksual.

Pada kebanyakan vertebrata dengan pengecualian primata, kemauan menerima hewan heawan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina, secara fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ-organ assesori seks betina. Hewan-hewan monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun sedangkan hewan-hewan poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak diganggu oleh kehamilan
(Adnan, 2006 : 43).
Siklus estrus dapat dibagi dalam beberapa tahap yaitu tahap diestrus, proestrus, estrus, dan metestrus. Tahap-tahap isklus dapat ditentukan dengan melihat gambaran sitologi apusan vagina. Paad saat estrus, vagina memperlihatkan sel-sel epitel yang menanduk. Apusan vagina biasanya dibuat pada hewan hewan laboratorium, umpanya mencit dan tikus, sebelum hewan jantan dan betina disatukan, penyatuan sebaiknya dilakukan pada saat estrus awal. Pada saat estrus, vulva hewan betina biasanya merah dan bengkak. Adanya sumbat vagina setelah penyatuan menandakan bahjwa kopulasi telah berlangsung, dan hari itu ditentukan sebagai hari kehamilan yang ke nol (Adnan, 2006 : 43)
Manivestasi psikologis berahi ditimbulkan oleh hormon seks betina, yakni estrogen yang dihasilkan oleh folikel-folikel ovarium. Berahi yang jelas dapat ditimbulkan pemberian estrogen, bahkan dapat diberikan pada betina yang dioverektomi. Perlu diingat bahwa meskipun berahi disebabkan oleh ovarium, tetapi dengan pengertian bebas dari aktifitas ovarium. Pada betina yang intak, estrogen dari luar dapat menimbulkan berahi pada hampir tiap saat selama periode siklus estrus, oleh sebab itu maka berahi dapat dipisahkan sama sekali dari peristiwa yang terpenting pada ovarium, yakni ovulasi. Pada terapi dengan menggunkan estrogen, adanya faktor ini dalam praktek kedokteran hewan sering dilupakan
(Nalbandov, 1990 : 140).

Dua jenis siklus yang berbeda ditemukan pada mamalia betina. Manusia dan banyak primata lain mampunyai siklus menstrtuasi (menstrual cycle), sementara mamalia lain mempunya siklus estrus (estrous cycle). Pada kedua kasus ini ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam siklus ini setelah endometrium mulai menebal dan teraliri banyak darah, karena menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantsi embrio. Satu perbedaan antara kedua siklus itu melibatkan nasib kedua lapisan uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus mnestruasi endometrium akan meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus endometrium diserap kembali oleh uterus, dan tidak terjadi pendarahan yang banyak (Campbell, 2004 : 141).

Menurut Syahrum (1994), perubahan-perubahan yang terjadi pada ovarium selama siklus estrus :
1. Selama tidak ada aktifitas seksual (diestrus) terlihat terlihat folikel kecil-kecil (folicle primer)
2. Sebelum estrus folikel_folikel ini akan menjkadi besar tetapi akhirnya hanya bsatu yang berisi ovum matang.
3. Folikel yangh berisi ovum matang ini akan pecah, telur keluar (ovulasi), saat disebut waktu estrus.
4. Kalau telur dibuahi, korpus luteum akan dipertahankan selama kehamilan dan siklus berhenti sampai bayi lahir dan selesai disusui.
5. Kalau telur tidak dibuahi, korpus luteum akan berdegenerasi, folikel baru akan tumbuh lagi, siklus diulangi.
Kemungkinan fertilisasi semakin besar diperbesar pada sejumlah spesies mamalia (tetapi pada manusia tidak), dengan menimbulkan birahi (estrus) pada betina dan hanya mau kawin ketika mendekati waktu ovulasi. Ovulasi ”birahi” dan perubahan lapisan-lapisan uterus dalam persiapan penerimaan telur yang dibuahi, dikontrol oleh mekanisme endokrin yang rumit (Vilee, 1989 : 73).

Pada manusia dan hewan primata lainnya mempunya siklus menstruasi, pada mamalia lain dikenal adanya siklus estrus (estrous cycle). Pada siklus estrus lapisan endometrium yang telah dipersiapkan untuk menerima konsepsi, akan diserap kembali oleh uterus bila tak terjadi pembuahan, sehingga tidak banyak terjadi pendarahan. Pada hewan betina periode seputar ovulasi, vagina mengalami perubahan yang memungkinkan terjadinya perkawinan, periode ini disebut dengan estrus (Anonim, 2006).
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus uterus jika tidak terjadi pembuahan, endometrium akan direabsorbsi oleh tubuh. Siklus estrus pada bebagai jenis hewan, berbeda-beda begitupun dengan jumlah siklus estrusnya dalam setahun berbeda pula (Rikacute, 2007)
Siklus estrus ini terjadi secara berkala. Bila dalam satu tahun hanya satu siklus disebut dengan monoestrus, misalnya menjangan satu kali dalam satu tahun . pada mamalia kecuali primata terjadi berhai pada yang betina disebut estrus {heat), pada saat itu binatang betina siap untuk kawin. Terlihat keadaan betina gelisah
(Syahrum, 1994 : 45)

Masa satu periode estrus ke estrus berikutnya disebut satu siklus estrus. Kalau terjadi perkawinan dan hamil, maka siklus estrus berhenti sampai bayi lahir. Bila tidak maka siklus jalan terus ( Syahrum, 1994 : 45)

Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktifitas yang tinggi ini di sebabkan oleh estrogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus. Siklus estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina (Adnan, 2007 : 45)

1. Hubungan antara siklus vagina , siklus estrus, dan siklus ovarium dalam kaitannya dengan siklus estrus yaitu :
a. Siklus vagina :
Selama fase estrus atau birahi atau perkembngan folikel yang maksimal, serviks mensekresi lendir dalam jumlah terbesar dan tercair pada manusia terdapat pada saat ovulasi
b. Siklus uterus :
Selama fase estrus atau birahi ukuran atau histologi uterus tidak pernah
statis. Perubahan yng sangat nyata terjadi di endomterium dan kelenjarnya. Selama fase folikuler dari siklus estrus, kelenjar uterus sederhana dan lurus dan sedikit cabang. Penampilan uterus ini menandkn untuk stimulasi estrogen. Selama fase luteal, yakni saat proegesteron beraksi terhadap uterus, endometrium beratambah tebal secara mencolok, diameter dan panjang kelenjar meningkat secara cepat menjadi percabangan dan berkelok-kelok.
c. Siklus ovarium:
Puncak peristiwa siklus estrus adalah peristiwa pecahnya folikel dan terlepasnya ovum dari ovarium. Pada sapi 75 % mengalami ovulasi 12 sampai 14 jam setelah birahi berakhir, yang lain mengalami ovulasi lebih awal, yaitu 2,5 jam sebelum ovulasi berakhir. Pada wanita akan mengalami ovulasi kira-kira hari ke 14 dari siklus. Pada beberapa hewan, variasi saat ovulasi tidak jelas.

1. Hormon-hormon yang berperan dalam mengatur iklus reproduksi pada manusia dan pengaruhnya yaitu :
FSH berfungsi merangsang pematangan sel telur dan pembentukan hormon estrogen
Estrogen berfungsi untuk menghambat terbentuknya FSH dan membentuk LH.
LH berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi.

2. Perbedaan siklus menstruasi dengan siklus estrus yaitu :
Siklus estrus merupakan siklus reproduksi yang terjadi pada hewan non primata yang meliputi empat fase yaitu fase diestrus, proestrus, estrus, dan fase metesterus.
Sedangkan siklus menstruasi mempunyai siklus menstruasi yang berlangsung pada hewan primata yng dewasa seksual yang ditandai dengan adanya siklus haid.

gamett oh gamettt

Gamet merupakan produk akhir dari gametogenesis yang berlangsung di dalam gonad (testis atau ovarium). Gamet yang merupakan spermatogenesis disebut sperma, sedangkan gamet yang mereupakan produk dari oogenesis disebut ovum. Gamet berfungsi sebagai pembawa informasi genetic dari kedua parental kepada keturunannya. Gamet jantan disebut spermatozoid dan gamet betina yaitu sel telur. Spermatozoa diproduksi di dalam tubulus seminiferus. Spermatosit vertebrata terdiri atlas bagian kepala, leher, bagian tengah dan ekor yang merupakan flagel yang panjang. Sperma hewan-hewan berbeda pula dalam ukuran bentuk dan mobilitasnya. Bentuk spermatozoid adalah spesifik spesies, perbedaannya terut ama terletak pada bagian kepalanya, yaitu dari bulat pipih sampai panjang lancip.
Pada pelaksanaan praktikum mengenai pengamatan sel kelamin, kami melakukan pengamatan terhadap sperma katak, mencit, merpati, dan manusia. Selain itu kami melakukan pula pengamatan pada sel telur ayam, telur mencit, telur katak, dan telur merpati. Disini kami mengamati mengamati struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa hewan vertebrata, hal ini dilakukan untuk melihat perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian system reproduksi yang berbeda.
B. Tujuan
1. Mengenal struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa hewan
vertebrata.
2. Mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian sel
reproduksi yang berbeda.
C. Manfaat
Setelah melakukan pengamatan ini, kita dapat mengetahui :
1. Struktur morfologi sperma dan sel telur hewan vertebrata.
2. Perbedaan sel kelamin dari bagian-bagian sel reproduksi yang berbeda.

Spermatozoa atau sperma dihasilkan oleh testis melalui proses yang disebut spermatogenesis. Sperma pertama kali dilepaskan pada saat pubertas, dan ini merupakan puncak dari serangkaian kejadian yang diawali kehidupan fetus. Spermatozoa pada spesies yang berbeda mempunyain ukuran yang bervariasi. Pada umumnya sperma terdiri atlas dua tipe yaitu sperma yang memiliki ekor dinamakan sperma tipe hematospermium sedangkan sperma yang tidak memiliki ekor dinamakan sperma tipe anemotispermium (Adnan, 2006; 76).
Sel telur diproduksi dalam ovarium. Perkembangan sel telur terjdi did a;lam folikel-folikel telur. Folikel-folikel yang matang mengalami oivulasi, sel telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk ke dalam oviduk. Seperti yang lainb, sel telur yang dilengkapi dengan membrane sel yang disebut plasmalema atau oolema untuk melundungi sitoplasma, inti, yolk, dan organel-organel dalam sel (Syahrum, 1994; 28-29).

Spermatogenesis atau reproduksi sel-sel dewasa adalah proses yng terus menerus dan prolifik pada jantan dewasa. Setiap ejakulasi laki-laki mengandung 100 sampai 650 juta sel sperma, dan seorang laki-laki dapat mengalami ejakulasi setiap hari dengan kemampuan untuk membuahi yang hanya berkurang sedikit (Campbell, 2004;160).
Struktur sperma sesuai dengan fungsinya untuk menembus sel telur. Bagian kepala berbentuk oval merupakan sel berinti besar dengan dengan sedikit sitoplasama, membran bagian ujung depan tredapat selubung tebal disebut akrosom yang mengandung enzim healuronidase dan proteinase yang berfungsi untuk menembus pelindung sel telur. Dibelakang kepala disebut badan sperma terdapat mitokondria berbentuk spiralm dan berukuran besra, berfungsi sebagai penyedia ATP/energi untuk pergerakan ekor yang berupa pergerakan flagel. Diantara sel-sel yang sedang mengalami spermatogenesis dalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel sertoli yang berfungsi sebagai penyedia nutrien dan mengatur proses spermatogenium (Anonim, 2007; 1).
Seperti halnya pada testis maka struktur maka struktur ovarium sangat beranekaragam. Pada sejumlah hewan, terutama pada vertebrata, oogonium dan oosit dikelilingi oleh selapis folikeol. Pada manusia hal ini terjadi pada awal perkembangan fetus dan menjelang bulkan ketiga oogonium mulai berkembang menjadi oosit primer. Pada waktu seorang bayi dilahirkan, kedua obariumnya mengandung sekitar 400.000 oosit primer yang telah mencapai tahap prifase dalam pembelahan miosis. Oosit primer ini tetap berada dalam tahap profase sampai wanita tersebut mencapai kematangan seksual. Dalam tiap daur reproduksi bulanan, satu folikel atau lebih mulai membesar. Tidak semuanya menjadi matang karena banyak yang mengalami atrofi, tetapi biasanya satu folikel akan matang. Pada waktu ovulasi (15 sampai 45 tahun setelah mulai miosis) telur berada dalam tahap oosit sekunder. Pada sebagian besar vertebrata, untuk merangsang pembelahan meosis kedua dibutuhkan penetrasi sperma (Ville, 1973; 324).
Sesuai dengan artinya 2 macam kromosom kelamin pada hewan yang bersistem XY (umumnya pada vertebrata). Maka di dalam hal sperma jadi haplon pada proses miosis. Terbentuklah spermatid yang disepihak hanya mengandung salah satu kedua macam kromosom itu : X atau Y. Terbentuklah sperma yang hanya mengandung kromosom kelmin X, disingkat sperma X : lalu ada sperma yang mengandung kromosom Y, disingkat sperma Y (Yatim, 1994; 15-16).
Dalam testis yang masak terdapat lebih sedikit sel-sel sertoli daripada sel-sel germinal(sel-sel benih), dan yang pertama cenderung untuk terletak merata sekeliling tubula seminifera. Sel-sel sertoli cukup tahan terhadap banyak zat beracun, seperti sinar-x dan pengaruh proses tua. Ada dua tipe sel sertoli yang dapat terlihat , satu yang berwarna gelap dan yang lainnya yan g berwarna muda. Arti fungsional darin perbedaan ini tidak diketahui (Bevelender, 1988; 353).

FISIOLOGI SISTEM RESPIRASI

Pernapasan atau respirasi adalah Pertukaran gas O2 dan CO2 dalam tubuh makhluk hidup. Pada dasarnya metabolisme yang normal dalam sel-sel makhluk hidup memerlukan oksigen dan karbondioksida. Pada hewan vertebrata terlalu besar untuk dapat terjadinya interaksi secara langsung antara masing-masing sel tubuh dengan lingkungan luar tubuhnya. Untuk itu organ-organ tertentu yang bergabung dalam sistem pernapasan dikhususkan untuk melakukan pertukaran gas-gas pernapasan bagi keperluan seluruh tubuhnya. Ada dua tahap pernapasan, tahap pertama oksigen masuk ke dalam dan pengeluaran karbondioksida ke luar tubuh melalui organ-organ pernapasan disebut respirasi eksternal, dan pengangkutan gas-gas pernapasan dari organ-organ pernapasan ke jaringam tubuh atau sebaliknya dilakukan oleh sistem sirkulasi. Tahap kedua adalah pertukaran O2 dari cairan tubuh (darah) dengan CO2 dari sel-sel dalam jaringan, disebut respirasi internal. Difusi gas-gas pernapasan antara lingkungan dengan pembuluh darah yang terdapat di bawah pembuluh respiratoris dapat terjadi jika permukaan tempat terjadinya pertukaran gas harus cukup luas dan tipis, selalu basah dan permeabel terbadap gas-gas pernapasan, dan terdapat perbedaan konsentrasi gas-gas pernapasan antara medium dan di luar darah.

  • Fungsi Respirasi

Fungsi respirasi adalah menyediakan oksigen untuk darah dan membuang karbondioksida. Sistem respirasi terdiri atas paru-paru dan sistem saluran yang menghubungkan jaringan paru-paru dengan lingkungan luar. Sistem respirasi di bagi menjadi dua, yaitu bagian kondusi yang terdiri atas rongga hidung, nesofaring, laring, trakhea, bronki, dan bronkeolus. Dan bagian respirasinya terdiri atas alveoli dan struktur yang berhubungan. Pertukaran gas antara udara dan darah hanya terjadi dalam alveoli (berbentuk seperti kantung khusus yang membentuk sebagian besar paru-paru). Adapun fungsi dari bagian kondusi adalah menyediakan saluran di mana udara dapat mengalir ke dan dari paru-paru, memelihara udara yang diinspirasi. Untuk melaksanakan fungsi tersebut, masing-masing sub divisi bagian kondusi memperlihatkan beberapa gambaran struktural yang sama satu sama lain. Agar suplai udara yang tidak terputus, terdapat gabungan-gabungan rawan, serabut-serabut elastin, dan otot polos yang memperlihatkan struktur penyokong yang keras dan kaku bagi organ-organ kondusi serta memerlukan fleksibilitas dan ekstenbilitas. Pada rawan terutama hialin dan adanya sedikit elastin yang ditemukan pada pinggir lamina propria (menunjukkan berbagai bentuk mulai dari lempeng-lempeng yang tidak teratur sampai yang berbentuk cincin lengkap). Rawan ini umumnya berperan sebagai penyokong dinding bagian kondusi, mencegah kolaps lumen sehingga udara dapat masuk ke paru-paru secara terus-menerus.Serabut-serabut elastin yang banyak dapat memberikan fleksibilitas struktur dan memungkinkan organ kembali ke bentuk semula setelah meregang. Serabut-serabut itu ditemukan dalam lamina propria, terutama yang terletak longitudinal. Konsentrasi serabut-serabut elastin berbanding terbalik denagn garis tengah bagian kondusi (bronkiolus yang terkecil mendapt proporsi serabut yang terbanyak). Berkas-berkas otot polos terdapat di trakhea hingga duktus alveolaris (bagian respirasi). Kontraksi otot polos mengurangi garis tengah bagian kondusi dan mampu mengatur aliran udara selama inspirasi dan ekspirasi. Pemeliharaan udara merupakan fungsi utama pada bagian kondusi. Sebelum udara masuk paru-paru, udara yang diinspirasi dibersihkan, dibasahi, dan dihangatkan. Untuk melakukan fungsi ini mukosa bagian kondusi dibatasi oleh epitel respirasi khusus dan kelenjar serosa dan mukosa yang banyak, serta kaya akan jarinagn vaskuler dalm lamina proprianya. Sebagian besar bagian kondusi dibatasi oleh epitel bertingkat toraks bersilia yang mengandung banyak sel goblet. Pada cabang-cabang bronkus, sel-sel epitel ini mengalami perubahan menjadi epitel pipih selapis. Ketika bronkus membelah menjadi bronkiolus epitel berubah menjadi selapis kubus. Jumlah sel goblet mulai berkurang pada bronkus yang lebih kecil dan sam sekali tidak ada pada epitel bronkiolus terminalis. Sel-sel bersilia yang menyertai sel-sel goblet tetap ada pada bronkiolus halus namun sudah tidak mengandung sel-sel goblet lagi. Sel-sel bersilia tersebut berperanan mencegah mukus yang tertimbun dalam bagian respirasi. Mukus yang menangkap partikel dan mengabsorbsi gas yang larut dalm air didorong terus menerus oleh silia ke arah faring. Pergerakan lapisan mukosa ditimbulkan dan diatur oleh aliran sekresi serosa. Selain untuk membersihkan kotoran, lapisn mukosa juga berperan untuk mebasahi udara inspirasi.

  • Fungsi dan struktur sistem respirasi



Sistem pernafasan tersusun atas organ pernafasan yang diawali dengan saluran pernafasan yang terdiri atas rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkus serta alveolus, pembuluh darah paru-paru, pembuluh limfe paru-paru, dan pleura yang terhubung langsung dengan paru-paru.
a) Rongga Hidung

Udara masuk dan keluar melalui rongga hidung. Dengan udara luar dihubungkan oleh lubang hidung luar (nares eksternal), dengan faring dihubungkan oleh lubang hidung dalam (nares internal/khoane). Rongga hidung dipisahkan oleh suatu sekat yang disebut septum basal, menjadi bagian kiri dan kanan sedangkan dari rongga mulut dibatasi oleh maksila dan tulang langit-langit mulut. Rongga hidung dilapisi dengan epitel silindris bersilia yang mengandung banyak sel goblet penghasil lendir. Rongga hidung dilengkapi dengan rambut hidung yang berfungsi sebagai penghalau benda-benda asing atau debu yang ikut masuk saat menghirup udara. Saat udara masuk ke hidung, bulu-bulu hidung berperan menyaring partikel-partikel debu yang kasar dan zat-zat lain. Mukus ini, dalam hubungannya dengan sekresi serosa, juga berperan untuk membasahi udara yang masuk dan melindungi pembatas alveolar halus dari pengeringan. Selain itu udara juga dihangatkan oleh jaringan vaskuler superfisial.

b) Laring

Laring merupakan tabung ireguler yang menghubungkan faring dengan trakea. Dalam lamina propia terdapat sejumlah rawan laring, struktur yang paling rumit pada jalan pernapasan. Rawan-rawan yang lebih besar (tiroid, krikoid, dan sebagian besar aritenoid) adalah rawan hialin, dan pada orang tua sebagian dapat mengalami kalsifikasi. Rawan yang lebih kecil (epiglottis, cuneiformis, kornikulatum, dan ujung aritenoid) adalah rawan elastin. Ligamentum-ligamentum menghubungkan rawan-rawan tersebut satu sama lain, dan sebagian besar bersambung dengan otot-otot intrinsic larynx, di mana mereka sendiri tidak bersambungan karena mereka adalah otot lurik. Selain berperanan sebagai penyokong (mempertahankan agar jalan udara tetap terbuka) rawan-rawan ini berperanan sebagai katup untuk mencegah makanan atau cairan yang ditelan masuk trakea. Mereka juga berperanan dalam pembentukan irama fonasi.

Epiglotis, yang menonjol dari pinggir laring, meluas ke faring dan karena itu mempunyai permukaan yang menghadap ke lidah dan laring. Seluruh permukaan yang menghadap ke lidah dan bagian permukaan apikal yang menghadap ke laring diliputi oleh epitel berlapis gepeng. Ke arah basis epiglottis pada permukaan yang menghadap laring, epitel mengalami perubahan menjadi epitel bertingkat toraks bersilia. Kelenjar campur mukosa dan serosa terutama terdapat di bawah epitel toraks, bebas menyebar ke dalam, yang menimbulkan bercak pada rawan elastin yang berdekatan. Di bawah epiglottis, mukosa membentuk dua pasang lipatan yang meluas ke dalam lumen larynx. Pasangan yang di atas merupakan pita suara palsu (atau lipatan vestibular), dan mereka mempunyai epitel respirasi yang di bawahnya terletak sejumlah kelenjar seromukosa dalam lamina proprianya. Pasangan yang bawah merupakan lipatan yang merupakan pita suara asli. Di dalam pita suara, yang diliputi oleh epitel berlapis gepeng, terdapat berkas-berkas besar sejajar dari selaput elastin yang merupakan ligamentum vocale. Sejajar dengan ligamentum terdpat berkas-berkas otot lurik, m.vocalis, yang mengatur regangan pita dan ligamentum dan akibatnya, waktu udara didorong melalui pita-pita menimbulkan suatu suara dengan tonus yang tidak sama

c) Trakea

Trakea merupakan tabung berdinding tipis yang terletak dari basis larynx (rawan krikoid)ke tempat di mana trakea bercabang menjadi 2 bronkus primer. Trakea dibatasi oleh mukosa respirasi. Di dalam lamina propria terdapat 16-20 rawan hialin berbentuk seperti huruf C yang berperanan mempertahankan lumen trake agar tetap terbuka. Ligamentum fibroelastindan berkas-berkas otot polos (m. trachealis) melekat pada perikondrium dan menghubungkan ujung-ujung bebas rawan yang berbentuk huruf C tersebut. Ligamentum mencegah peregangan lumen yang berlebihan, sementara itu otot memungkinkan rawan saling berdekatan. Kontraksi otot disertai dengan penyempitan lumen trakea dan digunakan untuk respon batuk. Setelah kontraksi, akibat penyempitan lumen trakea akan menambah kecepatan udara ekspirasi, yang membantu membersihkan jalan udara.

d) Bronkus T

rakea membelah menjadi 2 bronkus utama yang masuk ke dalam paru-paru pada tiap hilus. Selain itu, pada tiap-tiap hilus arteòh dan vena seòõ` pembuluh limfe masuk dan meninggalkan paru-paru. Struktur ini dikelilingi oleh jaringan penyambung padat dan membentuk akar paru-paru. Setelah masuk ke dalam paru-paru, bronkus primer menuju ke arah bawah dan luar untuk membentuk 3 bronkus pada paru-paru kanan 2 bronkus pada paru-paru kiri. Bronkus lobaris bercabang-cabang membentuk bronkus yang lebih kecil yang di sebut Bronkiolus. Masing-masing bronkiolus masuk ke lobus paru-paru yang membentuk 5-7 bronkiolus terminalis.

Lobulus paru-paru berbentuk piramid dengan apeks yang mengarah ke arah permukaan paru-paru. Tiap lobulus dibatasi oleh septum jaringan penyambung tipis yang terlihat pada fetus. Bronkiolus tidak mempunyai kelenjar pada mukosanya tetapi hanya ditunjukkan oleh adanya sel-sel goblet yang tersebar dalam epitel permulaan(bagian luar). Pada bronkiolus yang lebih besar, epitelnya bersilia dan kekomplekannya berkurang sehingga menjadi epitel kubis bersilia pada bronkiolus terminalis. Selain sel-sel bersilia, bronkiolus terminal juga mempunyai sel-sel clara yang permukaan apikalnya berbentuk seperti kubah yang menonjol ke arah lumen. Sel-sel clara pada manusia merupakan sel-sel sekretori. Bronkiolus respiratorius dibatasi oleh epitel kubis bersilia, tetapi pada tepi lubang alveolaris, epitel bronkiolus menuju epitel pembatas alveolus. Epitel bronkiolus terdiri atas epitel kubis bersilia tetapi pada bagian yang lebih distal, silia mungkin tidak ada. Bronkiolus respiratorius digunakan untukmenggambarkan fungsi pada segmen jalannya pernapasan.

Duktus alveolaris dan alveoli dibatasi oleh sel-sel epitel selapis gepeng yang sangat tipis. Dalam lamina propria, di sekitar tepi alveoli merupakan jala sel otot polos yang saling berhubungan. Duktus alveolaris bermuara ke dalam atria, ruang yang menghubungkan antara multilokularis alveoli dengan dua atau lebih alveolaris pada setiap atrium. Serabut-aerabut elastin memungkinkan alveoli mengembang pada waktu inspirasi dan secara pasif berkontraksi pada saat ekspirasi. Kolagen berperan sebagai penyokong yang mencegah peregangan yang berlebihan dan sebagai pencegah kerusakan-kerusakan kapiler halus dan septa alveoli yang tipis.

e) Alveolus

Alveoli ( jamak:alveolus ) merupakan evaginasi kecil seperti kantung dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris , dan sakus alveolaris. Alveoli merupakan bagian terminal cabang-cabang bronkus dan bertanggungjawab akan struktur paru-paru yang menyerupai busa. Secara struktural alveoli menyerupai kantung kecil yang terbuka pada salah satu sisinya, mirip sarang tawon. Dalam struktur yang menyerupai mangkok ini, oksigen dan CO2 mengadakan pertukaran antara udara dan darah. Dinding alveoli dikhususkan untuk menyelenggarakan difusi antar lingkungan eksterna dan interna. Umumnya, tiap-tiap dinding dari 2 alveoli yang berdekatan bersatu dan dinamakan septum atau dinding interalveolaris. Septum Alveolaris terdiri atas dua lapisan epitel pipih tipis yang diantaranya terdapat kapiler-kapiler, jaringan penyambung merupakan intertisial. Di dalam interstisial septa alveolaris paling kaya akan jaringan kapiler dalam tubuh.

Untuk mengurang jarak penghalang udara- darah, ke dua lamina basalis umumnya bersatu menjadi satu lamina basalis yang tipis. Tebal keempat lapisan ini berkisar dari 0,2 sampai 5 m. Dalam septa interalveolaris, kapiler-kapiler pulmonalis yang beranastomosis disokong oleh jalian serabut kolagen dan elastin. Serabut-serabut ini, yang dirancang agar memungkinkan pengembangan dan kontraksi dinding alveoli, merupakan struktur primer penyokong alveoli. Dalam Interstitial septa juga ditemukan leukosit, makrofag, dan fibroblast. Oksigen udara Alveoli masuk ke dalam kapiler darah melalui membran yang membatasi udara dan alveoli, CO2 berdifusi dengan arah yang berlawanan. Pelepasan CO2 dari H2CO3 dikatalisis oleh enzim anhidrase karbonat yang terdapat dalam sel-sel darah merah. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila eritrosit mengandung enzim tersebut lebih banyak dibandingkan sel-sel lain di tubuh. Paru-paru kira-kira mengandung 300 juta alveoli, jadi sangat menambah permukaan pertukaran interna, yang telah dihitung kira-kira 70-80 m2.

Sel endotel kapiler sangat tipis sekali dan mempunyai inti yang lebih kecil, tampak lebih panjang daripada inti sel-sel pembatas, seringkali mereka bersatu. Endotel yang membatasi kapiler darah adalah kontinyu dan tidak fenestrata. Secara sitologis, ini dan organel-organel sel yang lain berkelompok sehingga daerah-daerah lain sel menjadi sangat tipis sekali dalam rangka menambah efisiensi pertukaran gas. Gambaran yang paling nyata dalam sitoplasma pada bagian sel yang tipis adalah banyak mengandung vesikel-vesikel pinositik. Sel pipih Alveoler, disebut juga sel tipe I merupakan sel yang sangat tipis yang membatasi permukaan sel alveoli. Sel ini sangat tipis, kadang-kadang hanya bergaris tengah 25 nm, sehingga dibutuhkan analisis mikroskop elektron untuk membuktikan bahwa semua kapiler diliputi oleh epitel pembatas . Untuk mengurangi tebal penghalang udara-darah, inti dan organel-organel sel pipih berkelompok sedangkan sekitar inti sitoplasmanya menyebar, membentuk lapisan pembatas yang tipis. Sitoplasma pada bagian tipis terutama mengandung vesikel pinositotik, yang memegang peranan penting dalam turnover surfaktan (di jelaskan di bawah) dan pembuangan partikel-partikel kecil yang merupakan kontaminan dari permukaan luar. Secara sitologis, sel epitel pipih dan sel endotel kapiler satu sama lain merupakan bayangan cermin.

Selain desmosom, yang menghubungkan sel-sel yang berdekatan, semua sel epitel mempunyai hubungan okludens yang berperanan mencegah kebocoran cairan jaringan ke dalam celah udara alveoler. Peranan utama sel ini adalah menyediakan penghalang yang tipis yang sangat permeabel bagi gas-gas. Sel Alveolar besar, disebut sebagai sel tipe II juga dinamakan sel septal, ditemukan terselip diantara sel-sel epitel pipih, dimana mereka mempunyai hubungan okludens dan desmosom. Sel Alveolar besar merupakan sel yang secara kasar kubis yang biasanya ditemukan dalam kelompokan 2 atau 3 sel sepanjang permukaan alveoli pada tempat-tempat dimana dinding alveoli bersatu dan membentuk sudut. Sel-sel ini, yang terletak pada lamina basalis, merupakan bagian dari epitel, karena mempunyai asal yang sama seperti sel epitel pipih yang membatasi dinding alveoli. Secara sitologis, sel-sel ini mirip jenis sel sekretoris.

Mereka mempunyai mitokondria, retikulum endoplasma granuler, aparatus golgi yang berkembang baik, dan mikrovili pada permukaan bebasnya. Pada potongan histologis, mereka menunjukkan sifat sitoplasma yang vesikuler atau berbusa. Vakuola-vakuola disebabkan karena adanya badan-badan multilameler atau sitosom yang terawetkan dan terdapat pada jaringan yang disiapkan untuk mikroskop elektron. Badan multilamelar, yang bergaris tengah sekitar 0,2 m, mengandung granula-granula yang mempunyai lamel-lamel sejajar konsentrik yang dibatasi oleh suatu unit membran. Pemeriksaan histokimia menunjukkan bahwa badan-badan ini yang mengandung fosfolipid, mukosakarida, dan protein, secara kontinyu disintesis dan dikeluarkan pada permukaan apikal sel. Badan multilameler, yang dikeluarkan satu persatu, menimbulkan suatu zat yang menyebar diatas permukaan alveolir, membentuk selubung ekstra sel, surfakatan, yang mempunyai aktivitas permukaan yang unik. Prose sekresi sel tipe III telah dijelaskan dengan bantuan mikroskop elektron dan radioautografi.

Lapisan surfaktan terdiri atas hipofase proteinaceous cair yang diliputi oleh selaput monomolekuler fosfolipid, terutama terdiri atas dipalmitoil lesitin. Surfaktan berperan dalam fungsi utama ekonomi paru-paru. Surfaktan terutama membantu dalam mengurangi regangan permukan sel pipih alveolar. Tanpa Surfaktan, sel-sel yang sangat tipis ini cenderung akan membulat, suatu fenomena umum yang diperlihatkan akibat kebutuhan untuk mengurangi energi yang dikeluarkan untuk mempertahankan permukaan yang lebih luas, yang terdapat pada sel-sel yang tipis. Pengurangan regangan permukaan, berarti lebih sedikit tenaga inspirasi yang dibutuhkan oleh alveoli yang mengembang, jadi mengurangi kerja pernapasan. Pada perkembangan fetus, surfaktan timbul pada minggu terakhir kehamilan dan bersamaan dengan tinbulnya badan multilameler dalam sel alveoli besar. Pada kelahiaran premetur, bayi sering menunjukkan kesukaran pernapasan yang mengakibatkan kesulitan pernapasan. Penyakit membran hialin pada bayi baru lahir telah terbukti sebagai akibat insufisiensi pembentuka surfaktan, sehingga bayi menderita kesuliatan dalam mengembangkan alveoli.

Untung, sintesis surfaktan dapat dirangsang sehingga sindroma bahaya pernapasan (respiratory distress syndrome) biasanya menggambarkan kesukaran manajemen yang singkat. Selain sifat aktif permukaannya, surfaktan mempermudah transport gas antara fase udara dan cair. Surfaktan juga mempunyai efek bakterisidal yang membantu membuang bakteri yang berpotensial berbahaya bagi alveoli. Lapisan surfaktan tidak statis tetapi sca konstan mengalami turnover. Lipoprotein dengan lambat dibuang dari permukaan oleh vesilkel-vesikel pinositotik sel-sel epitel pipih. Vesikel-vesikel ini mentranpor zat melalui sel dan mengeluarakannya ke dalam interstitial., dimana akhirny dibuang oleh limfe. Oleh karena itu, zat ini mengalami siklus sekresi adan reabsorbsi yang kontinyu. Cairan yang membatasi alveoli juga dibuang melalui bagian konduksi sebagai akibat aktivitas silia. Waktu sekret masuk melalui jalan udara, mereka berikatan dengan mukus bronkus, membentuk cairan bronko-alveolar. Cairan ini membantu pembuangan partikel-partikel dan unsur yang berbahaya dari udara inspirasi. Dalam cairan terdapat beberapa enzim litik (misalnya , lisosim, kolagenase, dan -glukuronidase) yang mungkin berasal dari makrofag alveolar

Bila terdapat dalam lumen alveoli, makrofag terletak di luar epitel tetapi di dalam lapisan surfaktan. Hubngan okludens sekitar pinggir sel-sel epitel mencegah kebocoran cairan jaringan ke dalam lumen alveoli. Penghalang yang paling tipis antara plasma darah dan udar inspirasi dikurangi sampai epitel alveoli, lamina basalis yang bersatu, dan endotel kapiler. Walaupun rupa-rupanya peka terhadap infeksi bakteri dan virus, peradangan kronik tidak terjadi, karena penghalang terhadap infeksi disediakan oleh makrofag alveoler. Makrofag ini juga dinamakan sel-sel debu, berasal dari monosit yang asalnya dari sumsum tulang . Mereka ditemukan dalam septum alveolaris atau sering terlihat menonjol dari dinding alveoli ke dalam lumen. Walaupun seringkali dianggap bahwa makrofag ini dapat kembali lagi ke interstitial setelah berada dalam lumen alveoli, bukti terakhir berpendapat bahwa makrofag tidak menembus kembali dinding alveoli. Banyak yang makrofag yang mengandung debu dan karbon dalam jaringan penyambung sekitar pembuluh darah utama pada pleura mungkin merupakan sel yang tidak pernah melalui epitel pembatas. Debu yang telah difagositosis dalam sel-sel ini mungkin berjalan dari lumen alveoli ke dalam interstitial oleh aktifitas pinositosis sel-sel epitel pipih. Makrofag alveolar yang mencapai permukaan luar epitel, dalam lapisan surfaktan, dibawa ke pharynk dimana mereka ditelan. Pada payah jantung, paru-paru mengalami kongesti dengan darah dan sel darah merah bergerak masuk ke dalam alveoli (diapedesis), dimana mereka difagositosis oleh makrofag alveoler. Pada kasus ini, makrofag ini dinamakan sel payah jantung dan dan diidentifikasi dengan reaksi histokimia positif untuk pigmen besi (hemosiderin). Selain sel-sel yang telah dibicarakan, septum alveoli juga mengandung fibroblast, mast cells, dan suatu sel kontraktil yang baru saja ditemukan.

Fibroblas interstitial mensintesis serabut-serabut kolagen, elastin, dan zat dasar glikosaminoglikan. Kolagen merupakan 15-20% masa parenkim dan terutama mengandung kolagen tipe I dan III. Serabut tipe III mungkin berhubungan dengan serabut retikuler alveoli, sedangkan kolagen tipe I mungkin terkonsentrasi dalam dinding bagian konduksi dan dalam pleura. Proliferasi kolagen paru-paru sering terjadi, dan lebih dari 100 penyakit diketahui dikaitkan dengan fibrosis paru-paru. Sel-sel kontraktil dalam septum ditemukan terikat pada permukan basal epitel alveoli dan tidak pada sel endotel. Sel-sel ini, yang bereaksi dengan antiaktin dan antimiosin, berkerut dan mengurangi volume lumen alveoli. In vitro, telah terbukti bahwa jaringan parenkim paru-paru akan berkerut bila terkena agen farmakologi seperti epinefrin dan histamin. Septum interalveolaris, mungkin mengandung satu pori atau lebih, bergaris tengah 10-15 µm, menghubungkan alveoli yang berdekatan. Mereka dapat membuat tekanan dalam alveoli seimbang atau memungkinkan sirkulasi kolateral udara bila bronkiolus tersumbat. Pori ini disebut dengan alveolar. Telah terbukti bahwa inhalasi NO2 mengakibatkan destruksi sebagian besar sel-sel pembatas alveoli ( tipe I dan tipe II ).

Kerja senyawa ini atau zat-zat toksik lainnya dengan efek yang sama diikuti oleh peningkatan drastis aktivitas mitosis sel-sel sisanya, menimbulkan banyak sel bertipe II. Pada langkah kedua regenerasi sel pembatas alveoli, sebagian besar sel-sel tipe II diubah menjadi sel-sel tipe I, dan sel pembatas alveoli kembali ke bentuk yang normal. Kecepatan turnover normal sel tipe II diperkirakan 1% per hari, mempertahankan pembaharuan yang kontinyu dari tipenya sendiri dan juga sel tipe I. f) Pembuluh Darah Paru-Paru Sirkulasi pada paru-paru terdiri atas pembuluh yang memberi nutrisi dan pembuluh fungsional. Sirkulasi fungsional diwakili oleh arteria pulmonalis dan vena pulmonalis. Areteria pulmonalis sifatnya elastis dan mengandung darah vena yang harus di oksigenisasi dalam alveoli paru-paru. Dalam paru-paru, pembuluh ini bercabang-cabang, menyertai percabangan bronkus. Cabang-cabangnya dikelilingi oleh adventisia bronkus dan bronkiolus. Pada tingkat duktus alveolaris, cabang-cabang arteri ini membentuk jaringan kapiler yang berhubungan erat dengan epitel alveoli. Paru-paru mempunyai jaringan kapiler yang sangat halus dan yang perkembangannya sangat baik dalam tubuh. Kapiler-kapiler terdapat dalam semua alveoli, termasuk alveoli yang terdapat pada bronkiolus respiratorius.

Venula-venula yang berasal dari jaringan kapiler, pada parenkim hanya satu. Mereka disokong oleh jaringan penyambung tipis yang meliputi dan masuk septa interlobularis. Setelah vena-vena meninggalkan lobulus, mereka mengikuti cabang-cabang bronkus ke hilus, sampai mereka ditemukan satu dalam parenkim paru-paru. Pembuluh nutrisi terdiri atas arteria dan vena bronkialis. Cabang-cabang arteria bronkialis juga mengikuti percabangan bronkus, tetapi hanya sampai bronkiolus respiratorius, dimana ditempat ini mereka beranastomosis dengan arteria pulmonalis. Gambar 6. Pembuluh Darah pada Paru-Paru g) Pembuluh Limfe Paru-Paru Pembuluh limfe mengikuti arteria dan vena bronkialis dan vena pulmonalis, mereka juga terdapat dalam septa interlobaris, dan semuanya mengalir ke nodus limfatikus pada daerah hilus. Jaringan limfatik ini dinamakan pembuluh limfe profunda untuk membedakan dengan jaringan limfe superfisial yang terdiri atas pembuluh-pembuluh limfe yang terdapat pada pleura viseralis. Pembuluh-pembuluh limfe pada daerah ini mengalirkan limfe ke hilus. Mereka mengikuti seluruhpanjang pleura atau menembus jaringan paru-paru melalui septa interlobularis. Pada bagian terminal percabangan bronkus dan diluar duktus alveolaris, pembuluh limfe tidak ada.

h) Pleura

Pleura adalah membran serosa yang meliputi paru-paru. Ia terdiri atas dua lapisan, yaitu parietal dan viseral, yang bersambungan pada daerah hilus. Kedua membran diliputi oleh sel-sel mesotel yang terletak pada lapisan jaringan penyambung halus yang mengandung serabut kolagen dan elastin. Serabut-serabut elastin pleura viseralis bersambungan dengan serabut-serabut yang terdapat pada parenkim paru-paru. Oleh karena itu, kedua lapisan tersebut membatasai rongga yang semata-mata dibatasai oleh sel gepeng mesotel. Dalam keadaan normal, rongga pleura ini hanya mengandung selaput cairan yang bekerja sebagai agen pelumas, memungkinkan pergeseran halus permukaan satu dengan yang lainnya selama pergerakan respirasai. Pada keadaan patologis tertentu, rongga pleura dapat berubah menjadi rongga sebenarnya, mengandung cairan atau udara pada bagian dalamnya. Dinding rongga pleura, seperti semua rongga serosa (periotenum dan perikardium), sangat permeabel terhadap air dan zat lain. Jadi, penimbunan cairan pada rongga ini sering terjadi pada keadaan-keadaan patologis. Cairan ini berasal dari plasma darah dengan cara eksudasi. Sebaliknya, pada keadaan tertentu, cairan atau gas yang terdapat dalam rongga pleura dengan cepat dapat direabsorbsi.(berkaseredy)

Sistem pencernaan
Sistem pencernaan

Sistem pencernaan terdiri atas : – saluran pencernaan
– kelenjar-kelenjar yang berhubungan
Fungsi :
a. ingesti dan digesti makanan
b. absorbsi sari makanan
c. eliminasi sisa makanan
Langkah-langkah proses pencernaan makanan:
1. Pencernaan di mulut dan rongga mulut: makanan digiling menjadi kecil-kecil oleh gigi dan dibasahi oleh saliva
2. Disalurkan melalui faring dan esophagus
3. Pencernaan di lambung dan usus halus: dalam usus halus diubah menjadi asaam-asam amino, monosakarida, gliserida dan unsure-unsur dasarnya yang lain.
4. Absorbsi air dalam usus besar: akibatnya isi yang tidak dicerna menjadi setengah padat (veses).
5. Veses dikeluarkan dari dalam tubuh melalui kloaka (bila ada) kemudian ke anus.

Organ-organ asesori (organ tambahan):
a. Gigi
b. Lidah
c. Kelenjar ludah
d. Kelenjar-kelenjar pencernaan di luar saluran pencernaan (hati dan pancreas)
Struktur saluran pencernaan tiap vertebrata berbeda-beda atau disesuaikan dengan bentuk tubuh, jenis makanan, dan fungsi sistem pencernaan.
A. Mulut dan Rongga Mulut
Dalam pengertian luas istilah mulut sama artinya dengan rongga mulut. Rongga mulut dimulai dari mulut dan berakhir pada faring. Letak mulut pada posisi terminal dan ventral, sedangkan batas rongga mulut berupa epitel berlapis gepeng tanpa tanduk. Sel-sel superfisialnya berinti dan mempunyai granula-granula keratin di bagian dalamnya. Dalam rongga mulut terdapat kelenjar-kelenjar mucus, berfungsi untuk menghasilkan mucus sebagai pembasah dan pelicin makanan. Atap mulut terdiri dari palatum keras dan lunak, diliputi oleh epitel berlapis gepeng. Palatum keras adalah membran mukosa yang melekat pada jaringan tulang, sedangkan palatum lunak mempunyai pusat otot rangka dan banyak kelenjar mukosa pada lapisan submukosanya. Fungsi mulut adalah sebagai penerima makanan. Mulut beberapa hewan sebagai pengambil makanan karena terdapat rahang maksila dan mandibula. Organ-organ didalam rongga mulut antara lain: gigi, lidah, dan kelenjar ludah.
B. Lidah
Lidah merupakan massa jaringan pengikat dsan otot lurik yang diliputi oleh membran mukosa. Membran mukosa melekat erat pada otot karena jaringan penyambung lamina propia menembus ke dalam ruang-ruang antar berkas-berkas otot. Pada bagian bawah lidah membran mukosanya halus.
Fungsi lidah:
– untuk mengaduk makanan yang dikunyah
– menelan makanan
– mengontrol suara dan dalam mengucapkan kata-kata

Permukaan atas lidah mengandung banyak tonjolan-tonjolan epitel mulut dan lamina propia (yang disebut papilla). Terdapat empat jenis papilla:
a. Filiformis
– terdapat di bagian posterior
– bebtuk penonjolan konis, sangat banyak diseluruh permukaan lidah
– epitel tidak mengandung putting pengecap
– epitel berambut
b. Fungiformis
– di bagian anterior dan diantara filiformis
– menyerupai jamur karena menpunyai tangkai sempit dan permukaan yang halus, bagian atas melebar
– mengandung putting kecap, tersebar di permukaan atas
– epitel berlapis pipih tak menanduk
c. Foliatel
– pada pangkal lidah bvagian lateral, terdapat beberapa tonjolan-tonjolan padat
– bentuk: sirkumvalata
– banyak putting kecap
d. Circumfalate
– papillae yang sangat besar dengan permukaannya yang pipih meluas di atas papillae lain, susunan seperti parit
– tersebar di daerah “V” bagian posterior lidah
– banyak kelenjar mukosa dan serosin
– banyak putting kecap yang terdapat di sepanjang sisi papilla
C. Kelenjar Ludah

Kelenjar ludah terbentuk dari jaringan epitel dan menghasilkan secret.
Ciri-ciri: – sel glandularis
– duktus interkalaris
– saluran bercolak
– menghasilakan mucus dan enzim amilase
Ada 3 pasang kelenjar ludah menurut tempatnya:
1. Glandula parotid (kelenjar bawah telinga)
– sel penyusun: sel serous
– bentuk kelenjar asiner bercabang majemuk
– bermuara dekat gigi molar atas yang kedua
2. Glandula submaksiksilaris (kelenjar bawah rahang)
– bermuara di dekat pangkal lidah
– bentuk kelenjar tubuloasiner bercabang majemuk
– sel penyusun: sel serous (banyak) dan sel mukus. Sel serous, inti agak banyak dan sitoplasmanya mengandung butir-butir zimogen. Sel mukus, berinti gepeng dan terletak di bagian basal.
3. Glandula subligualis (kelenjar bawah lidah
– bermuara dekat pangkal lidah
– bentuk kelenjar tubuloasiner bercabang majemuk
– sel penyusun: sel mukus
D. Gigi

Ciri-ciri:
– Tersusun dalam 2 lengkung
– Terletak pada maxilla dan mandibula
– Masing-masing gigi terdiri atas bvagian yang menonjol di atas ginggiva (atau gum) yaitu mahkota dan di bawah ginggiva yaitu akar (mempertahankan gigi dalam lekuk tulang atau alveolus). Tempat peralihan mahkota ke akar sampai leher.
– Tiap gigi mempunyai rongga sentral, rongga pulpa
– Terdiri dari bagian nonmineral: pulpa, dan 3 bagian bermineral: email, dentin, sementum.
a. Dentin
Dentin merupakan jaringan kalsifikasi yang mirip tulang, tetapi lebih keras karena mengandung banyak garam-garam kalsium. Dentin terutama terdiri atas serabut-serabut kolagen, glikosaminoglikans, dan garam-garam kalsium (80%) berat kering dalam bentuk kristal-kristal hidroksiapatit. Dentin peka terhadap banyak rangsngan seperti panas, dingin, asam, trauma dan memberi respon terhadap semua rangsang sakit. Matriks organiknya disintesis oleh sel-sel odontoblas.
b. Email
Email meripakan struktur paling keras dari tubuh dan banyak mengandung kalsium. Terdiri atas 97% garam-garam kalsium dan 3% zat organic. Berasal dari epitel ectoderm, sedangkan struktur lain gigi berasal dari mesoderm. Matriks amail disekresi oleh sel-sel (ameloblas). Email terdiri atas struktur batang yang berbentuk prisma atau toraks heksagonal, prisma email yang berikatan satu sama lain dengan zat interprismatis.
c. Pulpa
Pulpa gigi terdiri dari jaringan pnyambung jarang. Unsur-unsur utamanyaadalah serabut-serabut kolagen halus yang tersusun asimetris dan substansia dasar yang mengandung glikosaminoglikans. Pulpa merupakan jaringan yang sangat banyak mengandung persyarafan dan pembuluh darah, serta banyak terhadap fibroblast.
– Struktur-struktur pertahanan gigi dalam lekuk tulang maxilla dan mandibula terdiri atas sementum, membranaperidentalis, tulang alveolar dan ginggiva.
– Jumlah dan distribusi
a. vertebrata rendah, mempunyai jumlah gigi sangat banyak
b. pisces, mempunyai gigi pada tulang rahang, palatin, dan faring
c. Amphibia, mempunyai gigi yang melekat pada tulang vomer, rahang atas, dan tulang palatin
d. Reptilia, gigi terdapat pada tulang palatin atau di rahang atas dan rahang bawah
e. Aves dan mamalia, gigi terdapat pada rahang atas dan rahang bawah
– Derajat Permanen
a. Vertebrata, mempunyai gigi pelifiodonbi (gigi yang terus berganti)
b. Mamalia, mempunyai gigi difiodonti (gigi berganti 2 kali), yaitu gigi susu dan gigi permanent.
c. Platypus( monotremata), mempunyai gigi monofiodonti (gigi yang tak berganti).
– Cara Pelekatan
Gigi melekat pada tulang rahang dengan jaringan ikat fibrosa. Cara pelekatan gigi terdiri dari 3 cara, yaitu:
a. Akrodonti : melekat di puncak tulang rahang, misalnya terdapat pada Teleoster
b. Pleurodonti : melekat pada sisi dalam tulang rahang, misalnya terdapat pada katak, necturus, dan kadal
c. Teledonti : akar gigi tertanam dalam alveoli (sokel) tulang rahang, misalnya pada buaya, burung bergigi, mamalia dan beberapa ikan.
– Morfologi gigi, terdiri dari:
a. Homodonti : gigi yang bentuknya serupa, misalnya pada vertebrata, mamalia
b. Heterodonti: gigi yang bentuknya beda misal, mamalia yang mempunayi morfologi gigi sebagai berikut:
1. Gigi seri (insisivus)
2. gigi taring (kaninus)
3. gigi geraham depan (premolar)
4. gigi geraham belakang (molar)
a. Jumlah gigi manusia 32 buah.
2-1-2-3 ½ belahan rahang atas
2-1-2-3 ½ belahan rahang bawah
I K P M
b. Gigi kelinci
3-1-3-1
3-1-2-1
c. Kucing
2-0-3-3
1-0-2-3
– Histologi gigi
Pada mamalia tiap gigi terdiri dari 3 bagian, yaitu:
a. Mahkota (korana) dilapisi email
b. Leher (serviks)
c. Akar (radiks)
Kelenjar-kelenjar Pencernaan di luar Saluran Pencernaan
a. Hati (hepar)
Hati merupakan kelenjar ynag terbesar di dalam tubuh. Fungsi hati antara lain:
– mengahasilkan empedu (sebagai kelenjar eksokrin) yang terkumpul dalam kandung empedu,
– menyimpan lemak dan glikogen serta albumin,
– mensintesis protein plasma darah,
– detoksifikasi zat-zat toksis,
– merombak eritrosit yang rusak,
– eliminasi asam amino menjadi urea, menyimpan vitamin A dan B dan berperan dalam metabolisme karbohidrat dan lemak
– menghasilkan suatu hormone
Hati terdiri atas beberapa belahan (lobus). Masing-masing lobus dibina oleh ratusan ribu lobulus yang berbentuk heksagonal. Tiap lobulus dilapisi oleh jaringan ikat interlobular yang disebut kapsula Glisson. Pada bagian tebgah lobulus hati terdapat vena sentralis, pita-pita sel hati yang bercabang atau berantomosis tersusun radier terhadap vena sentralis. Diantar pita-pita sel hati terdapat sinusoid-sinusoid darah yang tampak seperti celah-celah atau rongga. Pada dinding sinusoid terdapat sel kapiler yang tergolong sebagai makrofage. Sudut antara lobuli-lobuli yang bersebelahan disebut segitiga Kiernann yang berisi saluran porta, yaitu arteri, vena dan saluran empedu interlobular.
Sel hati (hepatosit) berbentuk polyhedral, berinti satu (75%) atau dua (25%). Sitoplasma mengandung banyak butir glikogen. Sel-sel inilah yang menghasilkan empedu. Untuk sementara empedu disimpan dalam kandung empedu(vesika fellea), disina empedu tersebut menjadi kental karena airnya diserap kembali aleh dinding kandung empedu. Hormon kholesistokinin mengatur pengeluaran empedu ke usus halus. Oleh ductus sistikus empedu disalurkan ke duktus kholedokhus yang bermuara di duodenum, dan di tempat tersebut terjadi pengemulsian lemak. Kandung empedu berkembang pada kebanyakan vertebrata. Ikan lamprey, kebanyakan burung, tikus dan ikan paus tidak mempunyai kandung empedu hanya mengkonsumsi sedikit lemak dalam makanannya. Manusia masih dapat hidup selama bertahun-tahun setelah kandung empedunya dibuang melalui pembedahan dengan syarat harus menghindari lemak dalam dietnya.
Anatomi lambung

Pankreas
Ciri-ciri:
– Kelenjar ini hanya terdapat pada vertebrata dan semua hewan vertebrata memilikinya.
– Pada Pisces, Amphibia dan Reptilia pancreas terletak di antara lambung dan duodenum, sedangkan pada Aves dan Mammalia terletak diantara parsasenden dan desenden duodeni.
– Merupakan organ majemuk, karena menpunyai fungsi sebagai kelenjar eksokrin maupun sebagai kelenjar endokrin.
– Bagian eksokrin. Merupakan kumpulan asini pancreas. Tiap asini berlumen sempit, dengan sel-sel sekretori berbentuk pyramid. Bagian ini menghasilkan enzim protease, nuclease, amylase dan lipase,
Bagian endokrin. Merupakan pulau-pulau Langerhans, tersebar diantara kelenjar eksokrin. Bagian ini terbentuk oleh sel, sel B
PERTANYAAN SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA
1. Sebutkan alat-alat pencernaan!
a. mulut
b. kerongkongan
c. lambung
d. usus halus
e. rectum
f. kantong empedu
g. pancreas

2. Di dalam rongga mulut terdapat 3 kelenjar pencernaan yang berperan penting pada proses pencernaan. Sebutkan ketiga kelenjar tersebut beserta lokasi dan peranannya masing-masing!
a. Kelenjar parotis, terletak di dekat telinga. Berfungsi untuk menghasilkan ludah berbenuk cair
b. Kelenjar submaksilaris, terletak di rahang atas. Berfungsi untuk membasahi makanan alam mulut
c. Kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah. Berfungsi untuk membasahi makanan alam mulut.
3. Bagaimana peranan lidah dalam proses pencernaan makanan di dalam mulut?
a. mengecap atau merasakan makanan

b. membolak-balik makanan

4. Gigi merupakan salah satu alat pencernaan yang membantu proses pencernaan di dalam mulut. Perhatikan gambar gigi berikut!
Anatomi mulut

Sistem Ekskresi Manusia

Manusia melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-harinya. Aktivitas tersebut berasal dari berbagai zat yang dihasilkan dalam proses metabolisme dalam tubuh manusia. Metabolisme dalam tubuh manusia tidak hanya menghasilkan zat-zat yang berguna bagi tubuh kita tetapi juga menghasilkan zat sisa. Zat-zat tersebut disebut zat sisa metabolisme tubuh. Zat-zat sisa tersebut kemudian oleh tubuh dikeluarkan melalui suatu sistem yang disebut sistem ekskresi. Pengeluaran zat-zat ini dilakukan karena zat tersebut jika masih terdapat dalam tubuh maka ia akan membuat tubuh menjadi keracunan dan menyebabkan kematian. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap remeh berbagai organ yang termasuk dalam sistem ekskresi manusia. Organ-organ tersebut adalah ginjal, paru-paru, kulit, dan hati. Jika keempat organ tersebut rusak maka akan sangat berbahaya akibatnya bagi tubuh manusia. Lalu, bagaimana cara organ-organ melakukan ekskresi? zat-zat apa saja yang harus diekskresi? penyakit apa saja yang diakibatkan kerusakan organ ekskresi?

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.